Literasirakyat.com – Angin pagi Cibinong mengibaskan bendera KNPI yang baru saja dipasang di halaman Vihara Amurwa Bhumi.
Cahaya matahari jatuh perlahan ke teras batu dan menyentuh lantai vihara yang masih basah oleh sisa hujan semalam.
Di depan altar, sekelompok anak muda mengenakan jaket biru khas Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) berdiri dalam diam.
Tangan mereka menenteng sapu, kain pel, dan sekardus alat kebersihan. Tak ada pidato. Tak ada kamera besar. Yang ada hanya ketulusan dan kerja tangan.

“Kami datang bukan hanya membawa bantuan, tapi membawa semangat,” ujar Wahyudi Chaniago, Ketua DPD KNPI Kabupaten Bogor, ketika seorang pengurus vihara menyambutnya dengan teh hangat dan senyuman.
Hari itu, Selasa 22 Juli 2025, menjadi awal dari perjalanan kecil namun bermakna dalam rangka Hari Lahir KNPI ke-52.
Sebuah usia yang cukup panjang bagi sebuah organisasi, tapi juga momen yang tepat untuk kembali bertanya, Apa arti menjadi pemuda hari ini?
Rumah Ibadah, Rumah Persaudaraan:
Di bawah naungan langit Bogor, KNPI Kabupaten Bogor melakukan bakti sosial ke empat tempat ibadah lintas agama, dari Vihara Amurwa Bhumi Cibinong yang sering disebut Hok Tek Bio

Lalu, ke Pura Raditya Dharma yang berdiri teduh tak jauh dari pusat kota, lalu Gereja Bethel Indonesia (GBI) Balekambang di Gunungputri, dan Masjid Jami At-Taqwa Kanisatex di Citeureup.
Di setiap tempat itu, langkah para pemuda KNPI bukan sekadar upaya simbolik. Mereka menyapu halaman, mengecat pagar, membersihkan kaca jendela rumah ibadah, dan berbincang penuh hormat dengan para tokoh agama.
Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Tidak ada yang paling benar atau paling tua. Yang ada hanya keinginan untuk menjalin kembali simpul-simpul persaudaraan dalam keberagaman.

“Dulu kami pikir KNPI hanya bicara di forum atau seminar. Tapi yang ini beda. Mereka datang, membersihkan rumah ibadah kami.
Mereka membawa pesan damai, tanpa harus banyak kata,” ucap Koh Agie, pengelola vihara, dengan mata yang sedikit berkaca.
Ziarah yang Menghidupkan Nilai:
Selepas menyambangi rumah-rumah ibadah, langkah KNPI berlanjut ke jalan yang lebih sunyi menuju makam para pendahulu mereka.
Di antara batu nisan dan ilalang yang tumbuh liar, para pengurus KNPI menabur bunga dan melantunkan doa di pusara Ellif Djehan, Ketua DPD KNPI pertama Kabupaten Bogor, dan Kang Iyus Djuher, tokoh muda yang merintis lahirnya Gedung Pemuda Bogor.

Farid Ma’ruf, menantu almarhum Kang Iyus, berdiri di tepi makam sambil menggenggam tasbih. Ia memandang generasi muda itu dengan perasaan bercampur haru, bangga, dan lega.
“Mereka tidak hanya mengingat, tapi menghormati. Dan itu membuat kami yakin: tongkat estafet itu tidak jatuh di tanah,” ucapnya dengan suara yang lirih namun teguh.
Saat Pemuda Menjadi Jembatan:
Bagi Wahyudi dan para pengurus KNPI hari ini, Harlah bukan hanya perayaan ulang tahun. Ia adalah refleksi.

Ia adalah waktu untuk menengok kembali siapa yang telah memulai jalan ini, dan untuk siapa jalan ini harus diteruskan.
“Pemuda bukan hanya penerus bangsa, tapi penentu arah,” kata Wahyudi. “Kami ingin tunjukkan bahwa kami bisa menjadi jembatan antara yang berbeda, bukan sekadar berdiri di sisi yang nyaman.”
Dan mungkin, itulah pesan paling kuat dari kegiatan ini: bahwa pemuda tak harus berteriak keras untuk terdengar.

Terkadang, langkah sunyi ke tempat ibadah dan makam tua, justru lebih bertenaga dalam menyuarakan persatuan.
Malam itu, saat matahari tenggelam di ufuk Citeureup dan para pengurus KNPI pulang ke rumah masing-masing, tidak ada pesta besar, tidak ada pesta kembang api.
Tapi ada sesuatu yang tinggal dan tumbuh sebuah harapan, bahwa pemuda masih punya wajah yang tulus dan hati yang bening untuk Indonesia.
Karena kadang, revolusi paling hebat tak datang dari teriakan, tapi dari sapuan pelan sapu di halaman tempat ibadah.***