Literasirakyat.com – Hamparan tanah kosong yang dulu berdiri kokoh sebagai Pendopo Eks Kewedanaan Jasinga kini berubah menjadi saksi bisu dari janji-janji yang belum sepenuhnya tuntas.
Sejak akhir 2024, bangunan bersejarah itu rata dengan tanah, menyisakan puing seperti nisan tanpa nama.
Bagi masyarakat Jasinga, terutama generasi mudanya, pendopo bukan sekadar dinding dan atap. Ia adalah ruang pertemuan rakyat, tempat lahirnya keputusan, hingga arena pesta rakyat.
Pendopo eks Kewedanaan Jasinga adalah ingatan kolektif. Maka ketika bangunan itu runtuh, yang roboh bukan hanya fisiknya, tetapi juga sepotong harga diri sejarah.
Tak heran, pada September 2024 lalu, para pemuda turun ke jalan. Mereka menuntut agar pemerintah tidak menutup mata atas hilangnya salah satu simbol Jasinga.
Setahun berselang, pemerintah akhirnya menjawab. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor menggelontorkan Rp992,8 juta dari PAD 2025 untuk membangun kembali pendopo.
CV Baris Sinar Abadi ditunjuk sebagai pelaksana, dengan CV Lim Group sebagai pengawas. Tenggat yang diberikan sangat singkat hanya 60 hari kerja, hingga 27 September 2025.
Kini papan proyek berdiri, material berserakan, dan suara alat berat mulai terdengar. Pemuda Jasinga yang dulu berteriak di jalan kini menyaksikan dengan lega, meski rasa waswas tetap membayangi.
“Bagi kami yang berjuang sampai turun ke jalan, tentu senang akhirnya pemerintah bergerak. Tapi kami juga berharap pembangunan ini tidak sekadar formalitas proyek. Harus sesuai spesifikasi, jangan sampai kualitas dikorbankan,” tegas Arya, perwakilan pemuda Jasinga, Rabu (27/8/2025).
Proyek hampir satu miliar rupiah ini bukan sekadar soal bangunan, melainkan ujian integritas.
Publik menanti, apakah dana rakyat benar-benar diwujudkan dalam pendopo yang layak, atau justru tergerus oleh praktik lama: proyek asal jadi, kualitas seadanya.
Pendopo lama memang sudah runtuh. Tapi dari tanah kosong itu, masyarakat Jasinga menggantungkan harapan: agar sejarah mereka tidak dipulihkan dengan janji palsu, melainkan dengan wujud nyata yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya.***