Gus Hai: Pemimpin Itu Tidak Bisa Instan, Bukan Mi Seduh Tiga Menit

Litersasirakyat.com – Sabtu siang (30/9/2025), Aula Kecamatan Leuwiliang mendadak jadi ruang perenungan sekaligus ruang sindiran.

Bukan karena listrik padam atau kursinya kurang, melainkan karena suara Ade Irawan, atau yang akrab disapa Gus Hai, menggedor kesadaran peserta Pelatihan Kepemimpinan Dasar Karang Taruna (PKD-KT).

“Banyak orang ingin jadi pemimpin tanpa melewati proses. Seakan-akan kepemimpinan itu bisa dibeli di warung, diseduh tiga menit, lalu siap saji,” ujarnya, membuat beberapa peserta terdiam, entah karena malu atau sedang membayangkan mi instan di rumah.

 

Gus Hai menegaskan, pemimpin bisa saja diangkat, dilantik, bahkan difoto dengan senyum lebar di depan baliho.

Namun, kepemimpinan sejati? Itu soal jiwa, soal latihan panjang, soal jatuh-bangun yang jarang mau ditanggung oleh generasi serba cepat.

“Kepemimpinan bukan sekadar tanda tangan SK. Bukan pula gaya berfoto dengan jas baru. Itu soal kesanggupan memahami lingkungan dan menanggung beban orang lain,” katanya.

 

Sindiran itu terasa relevan. Betapa sering kita melihat pemuda baru masuk organisasi sudah gelisah ingin duduk di kursi ketua.

Hierarki dianggap kuno, proses dianggap membosankan. Padahal, seperti yang diingatkan Gus Hai, tanpa proses, seorang pemimpin hanyalah pejabat tanpa jiwa papan nama yang kosong isinya.

Ia pun menutup materinya dengan kalimat yang lebih tajam ketimbang pisau dapur.

 

“Yang jarang hari ini adalah kesabaran. Banyak anak muda ingin cepat di atas, tapi lupa bahwa tangga tidak bisa diloncati. Kalau dipaksa, biasanya jatuh, dan jatuhnya lebih sakit dari yang dibayangkan.”

Para peserta pun terdiam, sebagian tersenyum kecut. Bukan karena lucu, tapi karena sadar, sindiran itu sebenarnya bukan untuk orang lain melainkan untuk diri mereka sendiri.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *