Literasirakyat.com – Senin pagi itu (28/7/2025), halaman Yayasan Cendekia Bogor tidak sekadar ramai.
Ia hidup. Penuh warna, tawa anak-anak, dan langkah-langkah yang membawa kenangan dua puluh tahun ke belakang.
Di antara deretan kursi dan tenda putih yang tertata rapi, berdirilah Dr. Usep Nukliri, sosok yang selama dua dekade menjadi ruh dari perjalanan lembaga ini.
Dengan suara tenang namun penuh keyakinan, ia membuka perayaan Milad ke-20 Yayasan Cendekia Bogor sebuah lembaga yang tumbuh dari kegelisahan akan masa depan generasi, dan kini menjelma menjadi mercusuar pendidikan berbasis nilai dan pengabdian.
“Kami tumbuh bersama masyarakat, mendidik dengan hati, dan membangun generasi yang bukan hanya cerdas, tapi juga berkarakter,” ujar Dr. Usep dalam pidato yang lebih menyerupai renungan.
Tema yang diusung tahun ini “Menebar Manfaat, Menyemai Peradaban” bukanlah sekadar slogan.
Ia mewakili semangat yang telah menggerakkan yayasan ini sejak awal berdiri pendidikan bukan hanya soal angka dan ijazah, tapi tentang keberpihakan, keteladanan, dan keberanian mencipta masa depan yang lebih manusiawi.
Acara Milad ke-20 dirayakan dalam balutan khidmat sekaligus semarak. Di antara derai tawa anak-anak penerima santunan yatim, ada haru yang mengalir diam-diam di mata para alumnibmereka yang pernah mengeja mimpi di bawah naungan yayasan ini, kini kembali sebagai bagian dari cerita yang lebih besar.
Ada pameran karya siswa yang menyuguhkan kecerdasan yang berani bersuara.
Ada diskusi pendidikan yang melibatkan para tokoh lokal dan akademisi membahas masa depan dengan kaki yang tetap berpijak pada budaya bangsa dan nilai-nilai keislaman.
Dr. Usep tak menutup mata terhadap tantangan pendidikan hari ini: digitalisasi yang kian deras, degradasi nilai, hingga kecemasan kolektif akan identitas generasi muda.
Namun baginya, semua itu justru menguatkan alasan mengapa lembaga seperti Yayasan Cendekia Bogor harus terus ada.
“Ini bukan sekadar perayaan. Ini ikrar. Bahwa Yayasan ini milik umat, dan akan terus hadir untuk umat. Dengan cinta, ilmu, dan kepedulian.”
Hadir dalam acara ini ratusan tamu undangan. Para tokoh pendidikan, pejabat daerah, mitra kerja, alumni, dan tentu saja masyarakat sekitar yang selama ini menjadi bagian dari denyut hidup yayasan.
Semuanya bersaksi bahwa dua puluh tahun bukan hanya angka, tapi perjuangan.
Dan ketika matahari mulai condong ke barat, para siswa berbaris dengan seragam terbaik mereka, menyanyikan lagu-lagu perjuangan.
Di sana, di tengah gemuruh tepuk tangan dan lantunan doa, Yayasan Cendekia Bogor menatap masa depan.
Dua dekade telah berlalu. Tapi langkah mereka baru saja dimulai.***