Hasrat Membangkit! Pemuda Barat Tak Mau Lagi Jadi Penonton di KNPI Bogor
- account_circle Bima
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Literasirakyat.com – Regenerasi kepemimpinan di organisasi kepemudaan bukan sekadar pergantian figur. Tantangan sesungguhnya adalah membuka ruang kompetisi yang sehat, memastikan gagasan mendapat tempat, dan membuktikan bahwa kepemimpinan tidak semata ditentukan oleh senioritas maupun kuatnya jejaring.
Pesan itu dibawa Haris Sumirat, yang dikenal dengan sapaan Hasrat. Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Bogor tersebut mulai menyatakan kesiapannya untuk maju dalam kontestasi Ketua DPD KNPI Kabupaten Bogor pada periode mendatang.
Lahir di Kecamatan Cigudeg, wilayah barat Kabupaten Bogor, Hasrat mengusung semangat “Hasrat Membangkit: Dari Barat for Pemuda Kabupaten Bogor Lebih Istimewa dan Gemilang.”
Baginya, pemuda dari wilayah barat tidak seharusnya hanya menjadi penonton dalam dinamika organisasi, tetapi harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil peran strategis.

Haris Sumirat (Hasrat) Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Bogor
Pada Rabu (14/10/2026), Hasrat menyebut kepemimpinan Ketua DPD KNPI Kabupaten Bogor saat ini, Wahyudi Chaniago, sebagai salah satu inspirasi. Ia menilai semangat organisasi yang mengusung slogan Speed, Smart, Solid perlu diterjemahkan menjadi gerakan yang lebih nyata.
“Pemuda dari wilayah barat juga harus berani tampil, mengambil peran, dan menduduki posisi strategis,” ujarnya.
Namun, ambisi regenerasi tidak cukup berhenti pada keberanian mendeklarasikan diri. Tantangan yang lebih besar adalah membangun kepercayaan, merangkul organisasi kepemudaan (OKP), dan menawarkan agenda yang menjawab kebutuhan pemuda Kabupaten Bogor secara luas.
Hasrat mengakui, perjuangan menuju kursi ketua tidak mudah. Ia menyadari dirinya tidak berasal dari OKP yang menurutnya ditopang oleh kekuatan senioritas.
Meski demikian, ia ingin membuktikan bahwa kapasitas dan gagasan juga layak menjadi pertimbangan dalam menentukan pemimpin “Kita akan berjuang. Jangan sampai gerakan kepemudaan hanya berhenti pada kegiatan seremonial,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus membuka pertanyaan mendasar bagi KNPI yakni, sejauh mana organisasi kepemudaan telah memberi ruang bagi kader muda untuk berkompetisi secara terbuka?
Apakah regenerasi benar-benar berjalan berdasarkan kapasitas, integritas, dan program kerja, atau masih dibayangi pengaruh kelompok dan jejaring tertentu?
Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada satu figur semata. Sebab, kualitas organisasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi ketua, tetapi juga oleh mekanisme yang memastikan setiap kader memiliki kesempatan yang adil untuk berkontribusi.
Bagi Hasrat, KNPI seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, pertarungan gagasan, dan pengabdian kepada masyarakat. Pemuda tidak boleh sekadar menjadi pelengkap agenda elite, apalagi diposisikan sebagai bidak dalam kepentingan politik pihak lain.
“Pemuda harus bisa bersinar dan gemilang tanpa terkukung senioritas. Jangan sampai generasi muda hanya dijadikan bidak catur politik. Pemuda harus berani tampil dan membuktikan kapasitasnya,” ujarnya.
Di titik inilah gagasan Hasrat perlu diuji lebih jauh. Keberanian mengkritik dominasi senioritas harus disertai komitmen membangun organisasi yang inklusif, transparan, dan terbuka terhadap perbedaan.
Semangat membawa nama wilayah barat pun perlu diterjemahkan menjadi agenda yang menjangkau pemuda di seluruh kecamatan Kabupaten Bogor, bukan sekadar menjadi identitas kontestasi.
Sebab, regenerasi bukan hanya tentang menghadirkan pemimpin yang lebih muda atau figur baru dari wilayah berbeda.
Regenerasi yang bermakna adalah perubahan cara organisasi bekerja: dari seremonial menuju pemberdayaan, dari dominasi kelompok menuju kolaborasi, serta dari janji menuju program yang terukur.
Hasrat telah menyampaikan pesan dan membuka langkah menuju kontestasi. Kini, publik kepemudaan menunggu pembuktian bahwa gagasan apa yang ditawarkan, bagaimana konsolidasi dibangun, dan sejauh mana semangat “dari Barat” mampu menjelma menjadi gerakan bersama untuk seluruh pemuda Kabupaten Bogor.
Dalam organisasi kepemudaan, keberanian tampil adalah awal. Integritas, gagasan, dan kerja nyata tetap menjadi ukuran yang harus dibuktikan.***
- Penulis: Bima

Saat ini belum ada komentar