Antara Dana Bantuan dan Harapan Hidup: Warga Cigudeg Menanti Tambang Kembali Beroperasi

Berita71 Dilihat

Literasirakyat.com – BOGOR – Suasana di kantor Desa Rengasjajar, Kecamatan Cigudeg, mendadak riuh pada Kamis (22/1). Ratusan warga tampak mengantre dengan tertib, menanti giliran untuk menerima dana kompensasi atas kebijakan penutupan sementara aktivitas pertambangan di wilayah Bogor Barat.

Bagi 1.803 Kepala Keluarga (KK) di desa tersebut, dana ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan “napas buatan” di tengah himpitan ekonomi yang kian menyesak sejak alat-alat berat di area tambang berhenti menderu. Penyaluran ini pun dipantau langsung oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bogor, Hadijaya, guna memastikan bantuan tepat sasaran.

Syukur di Tengah Paceklik Ekonomi “Penantian panjang kami akhirnya terjawab. Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah provinsi dan kabupaten. Uang ini sangat berarti karena jujur saja, sejak tambang ditutup, mencari sesuap nasi jadi jauh lebih sulit,” ungkap Owen, salah satu warga, sesaat setelah memegang haknya.

Namun, di balik senyum syukur tersebut, terselip kegelisahan yang sama di benak warga lainnya. Kompensasi tunai dianggap sebagai obat penawar sementara, namun bukan penyembuh utama atas lumpuhnya urat nadi ekonomi mereka.

Menagih Janji Kembalinya Lapangan Kerja Sobit, warga lainnya yang hadir di lokasi, menyuarakan isi hati mayoritas masyarakat Cigudeg dan Rumpin. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kebijakan penutupan ini bertujuan untuk pemulihan lingkungan. Namun, baginya, urusan perut tidak bisa menunggu lama.

“Kami sadar penutupan ini demi kebaikan lingkungan. Tapi di sisi lain, kami memohon agar kebijakan ini segera dikaji ulang. Dampak ekonominya sangat terasa, ekonomi warga benar-benar anjlok,” keluhnya dengan nada penuh harap.

Bagi masyarakat di lingkar tambang, aktivitas pengerukan batu dan pasir adalah sumber kehidupan utama yang menggerakkan warung-warung kecil, bengkel, hingga pasar tradisional. Tanpa tambang yang beroperasi, roda ekonomi di Bogor Barat seolah kehilangan porosnya.

Distribusi yang Terukur Untuk menghindari kerumunan dan menjaga akurasi data, petugas di lapangan menerapkan verifikasi identitas yang ketat melalui kartu keluarga. Langkah bertahap ini diambil agar tidak terjadi tumpang tindih penerima, mengingat masih ada data tambahan susulan yang sedang diproses oleh pemerintah desa.

‎Kini, setelah warga Desa Rengasjajar menerima haknya, estafet penyaluran kompensasi akan terus berlanjut ke desa-desa lain di wilayah Bogor Barat. Namun, satu pertanyaan besar masih bergantung di benak warga: sampai kapan mereka harus bergantung pada kompensasi, dan kapan mereka bisa kembali bekerja di bawah langit tambang yang selama ini menghidupi mereka?

: Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *