Literasirakyat.com – Langit Bogor siang itu tampak teduh, meski matahari masih menancap tajam di atas kepala.
Di suatu tempat, di hadapan ratusan pemuda berdiri tegak, menggemakan ikrar yang sudah berusia hampir seabad yakni ikras sumpah pemuda yang berbunyi, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia.
Namun di antara gema seremonial itu, ada satu suara yang menyelinap lebih dalam, menembus formalitas dan upacara.
Suara itu datang dari Amdin Nukliri, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Pelajar Muslimin Indonesia (DPP SEPMI).
Bagi Amdin, Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan, melainkan panggilan untuk menepati janji kemerdekaan, janji mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Kaum muda sebelum kemerdekaan berjuang dengan semangat yang luar biasa. Mereka ditipu dengan janji kesejahteraan, tapi yang datang justru penderitaan. Semua itu terjadi karena minimnya pendidikan,” ujarnya lantang, di tengah tepuk tangan.
Amdin tidak sedang berbicara tentang masa lalu semata. Ia sedang berbicara tentang kita — generasi yang hidup di zaman serba digital namun masih berhadapan dengan ketimpangan pengetahuan.
“Kini, penjajahan hadir dalam bentuk baru: ketimpangan akses pendidikan. Masih banyak anak bangsa yang tidak benar-benar merdeka untuk belajar,” katanya.
“Dari Bogor Barat, Suara untuk Nusantara”
Lahir di pelosok barat Kabupaten Bogor, Amdin memahami betul bagaimana jarak bisa menjadi sekat bagi pengetahuan.
Di banyak daerah, sekolah masih berarti perjalanan jauh, sinyal internet masih menjadi kemewahan, dan buku masih dianggap barang langka.

Maka, baginya, bicara tentang Indonesia Emas 2045 bukan soal slogan, tapi tentang keadilan pendidikan yang merata.
“Indeks Pembangunan Manusia (IPM) harus merata di seluruh Indonesia. Tidak boleh ada anak bangsa yang tertinggal dari haknya untuk menempuh pendidikan minimal 12 tahun,” tegasnya.
Di hadapan kader SEPMI dari berbagai daerah, Amdin melontarkan gagasan konkret: menjadikan pendidikan sebagai poros gerakan pemuda.
Bagi organisasi yang berakar dari semangat pelajar muslimin ini, pendidikan bukan sekadar ruang akademik, tapi medan perjuangan membentuk karakter dan nalar kebangsaan.
“Dari Sumpah ke Aksi”
Pernyataan Amdin bukan sekadar retorika panggung. Ia mendorong agar seluruh pengurus SEPMI di tingkat provinsi dan kabupaten/kota menghidupkan kembali gerakan belajar, baik melalui pendampingan siswa, kelas literasi, maupun inisiatif sosial di komunitas.

“Pemuda harus bersaing bukan hanya dengan semangat, tapi dengan ilmu. Kita harus hadir di tengah masyarakat, memberi solusi, bukan hanya seruan,” katanya.
Di momen Sumpah Pemuda ke-97 ini, pesannya terdengar seperti gema masa lalu yang menemukan bentuk barunya.
Jika pada 1928 para pemuda berikrar menyatukan bangsa, maka di 2025, tantangannya adalah bagaimana menjaga kesatuan itu melalui kecerdasan, etika, dan kemajuan pendidikan.
“Sumpah yang Terus Hidup”
Ketika upacara usai, sebagian peserta masih berdiri menatap bendera yang perlahan turun. Di wajah mereka, terpantul semangat yang serupa dengan generasi 1927.
Bedanya, kini medan perjuangan bukan lagi medan perang, melainkan ruang kelas, layar komputer, dan buku-buku pelajaran.
“Setiap kali kita menempuh ilmu, kita sedang melanjutkan perjuangan para pemuda dulu,” ujar Amdin, menutup sambutannya dengan nada teduh.

Sumpah Pemuda, baginya, tidak berhenti pada kata-kata. Ia harus menjadi kerja panjang untuk memastikan setiap anak bangsa bisa belajar, tumbuh, dan bermimpi.
Lebih lanjut, semangat itu seolah benar-benar hidup, menyalakan kembali api lama, dalam bentuk sumpah baru, bahwa pendidikan adalah medan juang paling suci bagi generasi muda Indonesia.***






