Sekolah Advokasi Katar Cigudeg: Ketika Pemuda Tak Lagi Mau Sekadar Jadi Penonton
- account_circle Bima
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Literasirakyat.com — Di tengah berbagai persoalan sosial yang terus muncul di tengah masyarakat, menjadi penonton tentu jauh lebih mudah.
Diam tidak membutuhkan keberanian. Bertanya kadang dianggap merepotkan. Apalagi ketika suara kritis mulai menyentuh persoalan yang selama ini dianggap biasa.
Namun, justru dari kegelisahan itulah keberanian untuk bersuara perlu dirawat.

Sekolah Advokasi Katar Cigudeg: Ketika Pemuda Tak Lagi Mau Sekadar Jadi Penonton
Semangat tersebut dibawa Karang Taruna Kecamatan Cigudeg melalui Sekolah Advokasi yang digelar di Kantor Kecamatan Cigudeg, Minggu (13/9/2026).
Sebanyak 50 pemuda dari 15 desa se-Kecamatan Cigudeg mengikuti kegiatan tersebut. Mereka diajak memahami satu hal penting yakni, peduli terhadap persoalan masyarakat tidak cukup hanya dengan mengeluh, tetapi membutuhkan pengetahuan, keberanian, dan kemampuan menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab.

Sekolah Advokasi Katar Cigudeg: Ketika Pemuda Tak Lagi Mau Sekadar Jadi Penonton
Sekolah Advokasi pun menjadi ruang untuk membongkar anggapan bahwa pemuda hanya dibutuhkan ketika ada kegiatan seremonial, perayaan, atau sekadar menjadi pelengkap sebuah agenda.
Pemuda semestinya hadir ketika masyarakat membutuhkan suara.
Mereka harus mampu melihat persoalan, bertanya ketika ada yang perlu dipertanyakan, mengawal kepentingan publik, sekaligus menawarkan solusi ketika kritik telah disampaikan.

Steering Committee Sekolah Advokasi, Wikal Sungkar, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang belajar dan bertukar gagasan bagi generasi muda.
“Kami berharap kegiatan Sekolah Advokasi ini dapat menjadi ruang belajar, bertukar gagasan, serta meningkatkan pemahaman dan kapasitas generasi muda dalam memahami pentingnya advokasi,” ujarnya.
Menurut Wikal, keberanian bersuara harus dibangun di atas pemahaman. Kritik tanpa pengetahuan berpotensi menjadi sekadar kegaduhan, sementara pengetahuan tanpa keberanian hanya akan berhenti sebagai wacana.

Karena itu, peserta dibekali pemahaman mengenai penyampaian aspirasi dan pengawalan berbagai isu sosial yang berkembang di masyarakat.
“Generasi muda diharapkan tidak hanya kritis dalam melihat persoalan, tetapi juga mampu memberikan solusi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui cara-cara yang tepat dan konstruktif,” katanya.
Ketua Karang Taruna Kecamatan Cigudeg, Ade Perdana, menegaskan bahwa Sekolah Advokasi tidak boleh berakhir sebagai kegiatan yang hanya ramai saat dibuka dan kemudian dilupakan setelah foto bersama.

Sekolah Advokasi Katar Cigudeg: Ketika Pemuda Tak Lagi Mau Sekadar Jadi Penonton
Harapannya jauh lebih besar. “Sekolah Advokasi ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal dari lahirnya generasi muda yang berani bersuara, memiliki kepedulian sosial, memahami hak dan kewajibannya, serta mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” ungkapnya.
Pesan itu sekaligus menjadi tamparan halus bagi kebiasaan lama berupa pemuda sering diminta aktif, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk benar-benar menyampaikan pandangan.
Padahal masyarakat membutuhkan generasi yang tidak takut bertanya.

Sekolah Advokasi Katar Cigudeg: Ketika Pemuda Tak Lagi Mau Sekadar Jadi Penonton
Bukan generasi yang hanya pandai bertepuk tangan ketika pembangunan diumumkan, tetapi kemudian kehilangan suara ketika menemukan persoalan di lapangan.
Bukan pula generasi yang menjadikan kritik sebagai permusuhan, melainkan memahami kritik sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.
Di situlah advokasi menemukan maknanya.

Sekolah Advokasi Katar Cigudeg: Ketika Pemuda Tak Lagi Mau Sekadar Jadi Penonton
Bersuara bukan berarti merasa paling benar. Mengkritik bukan berarti memusuhi. Mengawal kebijakan bukan berarti mencari kesalahan.
Justru sebaliknya, advokasi adalah cara warga memastikan kepentingan masyarakat tidak hilang di antara tumpukan agenda, dokumen, dan jargon pembangunan.
Dari Cigudeg, pesan itu kini dilemparkan kepada generasi muda di 15 desa: jangan hanya menjadi generasi yang menyaksikan perubahan. Jadilah bagian dari mereka yang ikut mengawal arah perubahan tersebut.

Sekolah Advokasi Katar Cigudeg: Ketika Pemuda Tak Lagi Mau Sekadar Jadi Penonton
Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan pemuda yang berani berbicara.
Masyarakat membutuhkan pemuda yang berani peduli, berani memahami, berani bertanya, dan yang paling penting—berani bertanggung jawab atas suara yang disampaikannya.
Karena diam memang aman. Tetapi perubahan, hampir selalu, membutuhkan mereka yang berani bersuara.***
- Penulis: Bima

Saat ini belum ada komentar