Bicara Sumpah Pemuda: Saatnya Bersumpah Ulang!

Literasirakyat.com – Mari jujur. Tiap 28 Oktober kita ramai-ramai berteriak, “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa!” — tapi begitu upacara selesai, sumpah itu ikut dikubur di bawah karpet merah.

Ya, Sumpah Pemuda lahir tahun 1928, 97 tahun lalu. Sebuah kongres yang melahirkan tiga kalimat yang mengguncang zaman. Tapi kini, yang tersisa hanya gema tanpa makna.

Bicara Sumpah Pemuda: Saatnya Bersumpah Ulang!

Sumpah itu dulu lahir dari lima dasar kokoh: kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, serta pendidikan dan kepanduan.

Namun mari kita bedah satu per satu — sebab nyatanya, banyak yang kini tinggal puing.

 

Kemauan? Kini hanya tinggal seremonial.

Semangat untuk berubah, bersatu, dan membangun bangsa berganti dengan upacara, spanduk, dan lomba baca puisi tahunan.

Kita lebih sibuk memposting ucapan “Selamat Hari Sumpah Pemuda” daripada benar-benar menyelami maknanya.

 

Sejarah? Masih banyak yang kabur.

Kita tahu tanggal dan tempat, tapi tak memahami luka dan perjuangan di baliknya.

Generasi muda hapal nama tokoh, tapi tak kenal gagasan dan nyalinya. Sejarah berubah jadi pelajaran yang dihafal, bukan diteladani.

Bahasa? Ya, masih kita gunakan, tapi makin tercemar. Di dunia digital, bahasa Indonesia dikoyak campuran bahasa gaul dan ego.

Kita tak lagi bicara untuk memahami, tapi untuk tampil keren di linimasa.

Pendidikan dan kepanduan? Dua hal ini sudah nyaris tinggal nama.

Karakter Pancasila makin tipis, rasa hormat makin kering. Lihat saja tawuran, perundungan, hingga kekerasan antarsekolah, bukti nyata bahwa sumpah itu kini tinggal teks di buku upacara, tanpa nyawa di dada muda.

 

Hukum adat? Masih menunggu pengakuan penuh dari negara.

Warisan luhur bangsa masih dianggap pelengkap, bukan fondasi. Kita lebih cepat meniru hukum luar negeri ketimbang menggali kearifan sendiri.

Lalu apa yang tersisa dari sumpah yang dulu mengguncang dunia itu?

Mungkin hanya upacaranya.

Sudah saatnya Sumpah Pemuda diulang — bukan di podium, tapi di hati dan tindakan.

Karena sumpah tanpa penghayatan bukanlah janji,

melainkan dusta nasional yang kita rayakan setiap tahun.***

Oleh: Didin Kherudin, Jasinga 28 Oktober 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *