Literasirakyat.com – BOGOR – Implementasi Program Makanan Bergizi (MBG) di wilayah Rancabungur tengah memicu polemik. Sejumlah wali murid dan elemen masyarakat melayangkan protes keras terhadap Dapur SPPG Rancabungur lll penyedia jasa, terkait dugaan rendahnya kualitas pangan serta manajemen operasional yang dinilai tidak transparan.
Kualitas Menu dan Standar Nutrisi Dipertanyakan.
Wali murid dari sejumlah instansi pendidikan, termasuk SDN Mekarsari dan Rancabungur 01, melaporkan bahwa komposisi menu yang disajikan seperti, ubi rebus, singkong goreng dan kentang rebus dinilai tidak memenuhi ekspektasi standar gizi seimbang.
Kondisi ini memicu kekhawatiran orang tua terhadap kecukupan nutrisi siswa. Lebih memprihatinkan, muncul laporan mengenai temuan posri pangan yang dianggap tidak memenuhi nilai porsi dan gizi.
Menanggapi karut-marut tersebut, masyarakat mendesak adanya evaluasi menyeluruh dari dinas terkait, khususnya Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Selain pengawasan ketat, muncul usulan dari sebagian warga agar skema bantuan dialihkan menjadi dana tunai kepada keluarga siswa guna menjamin fleksibilitas pemenuhan nutrisi secara mandiri.
Lokasi operasional Dapur SPPG Rancabungur III yang bertempat di Lapangan Golden Futsal, Kampung Rancabungur, kini menjadi pusat perhatian warga dan pemangku kepentingan (stakeholders). Perwakilan warga menyatakan berencana membawa aspirasi ini ke pemerintah daerah serta menggalang aksi bersama guna menuntut akuntabilitas program.
Sejatinya, Program MBG dirancang sebagai pilar penguatan gizi anak sejak dini. Kegagalan dalam manajemen operasional tidak hanya merugikan anggaran negara, tetapi juga mengancam esensi dari program itu sendiri. Pihak pengelola diharapkan segera melakukan langkah perbaikan konkret guna memulihkan kepercayaan publik dan menjamin gizi siswa.
Carut-Marut Pengelolaan Makanan Bergizi di Rancabungur, Warga Tuntut Evaluasi












