Di Balik Rumah yang Hampir Ambruk, Anggota DPRD Dr. Usep Nukliri Bawa Harapan yang Tumbuh

Berita159 Dilihat

Literasirakyat.com – Di Kampung Panjaungan, Desa Batu Tulis, Nanggung, Bogor, suara kayu patah dan genteng berjatuhan masih terngiang di telinga warga.

Sebuah rumah sederhana roboh, menyisakan dinding yang miring dan reruntuhan yang seolah berbisik tentang betapa rapuhnya kehidupan di tengah cuaca yang kian sulit ditebak.

Di antara kepulan debu dan tatapan warga yang resah, sosok Usep Nukrili, anggota DPRD Kabupaten Bogor, hadir.

Di Balik Rumah yang Hampir Ambruk, Anggota DPRD Dr. Usep Nukliri Bawa Harapan yang Tumbuh

Bukan dengan jas rapi di balik meja kantor, melainkan dengan langkah sederhana menapaki jalan kampung yang penuh lumpur.

Hari itu, Kamis 18 September 2025, ia memilih meninggalkan gedung DPRD demi mendengar langsung keluhan rakyatnya.

“Sebagai wakil rakyat, saya harus melihat dengan mata kepala sendiri. Rakyat bukan hanya angka di atas kertas, mereka punya cerita, punya luka, dan punya harapan,” ucap Usep lirih saat menatap reruntuhan.

Warga menyambut dengan wajah lega. Bagi mereka, kedatangan seorang wakil rakyat bukan sekadar simbol, melainkan tanda bahwa suara kecil di kampung pelosok pun pantas didengar.

Seorang ibu yang rumahnya luluh lantak menahan air mata saat berkata, “Dengan kehadiran Pak Usep, kami merasa tidak sendirian. Semoga pemerintah cepat membantu agar kami bisa kembali punya tempat berteduh.”

Di sela percakapan, suasana yang semula tegang berubah hangat. Ada harapan yang tumbuh, seolah di balik tembok yang runtuh, masih ada fondasi kuat berupa kepedulian.

Usep berjanji tak akan membiarkan cerita itu hanya berhenti di kampung kecil ini.

Ia akan membawa suara warga ke ruang-ruang rapat, memastikan setiap keluhan tak tenggelam dalam tumpukan agenda birokrasi.

Ini bukan sekadar musibah rumah ambruk, ini pengingat bagi kita semua wakil rakyat sejati harus hadir di tengah rakyat, terutama saat mereka paling membutuhkan,” tegasnya.

Hari itu, di bawah langit mendung, warga Kampung Panjaungan tak hanya menyaksikan reruntuhan rumah.

Mereka juga menyaksikan sebuah janji: bahwa di balik puing-puing, selalu ada harapan yang bisa dibangun kembali.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *