Literasirakyat.com — Di antara rapat-rapat serius, diskusi strategis, dan program pemberdayaan yang digarap para pemuda di bawah payung KNPI, ada satu fenomena yang tiba-tiba mencuri perhatian: Pelen.
Bukan nama organisasi, bukan pula gerakan baru—melainkan julukan satir bagi sekelompok pemuda yang lebih gemar tampil daripada bekerja.
Di tanah Sunda, pelen adalah sebutan untuk anak kerbau yang warnanya berbeda dari lainnya—biasanya lebih mencolok, tingkahnya pun paling heboh.
Di kampung, pelen dikenal suka jingkrak-jingkrak, membuat gaduh, tapi tak pernah benar-benar membantu petani.
Dan rupanya, istilah itu kini menemukan “rumah baru” di Bogor.
Didin Radien dari Jaringan Kebudayaan Rakyat Kabupaten Bogor tak bisa menyembunyikan senyum mirisnya ketika bicara soal fenomena Pemuda Lenong ini.
Baginya, kemunculan para “pelen-pelen” ini seperti panggung hiburan yang tak pernah diundang—tapi tiba-tiba sudah ada di tengah arena.
“Ini bukan aktivisme,” katanya pelan tapi tegas. “Ini hanya keramaian yang minta diperhatikan. Mereka ribut, tapi tak satu pun gagasan yang bisa dipakai masyarakat.”
Didin mengibaratkan gerakan ini seperti pertunjukan wayang tanpa naskah, ramai tepuk tangan, tapi tak tahu untuk apa.
Di saat banyak pemuda jungkir-balik mengolah program, turun ke lapangan, hingga mengorbankan waktu demi kontribusi nyata, kelompok ini tampil dengan gaya yang lebih megah daripada prestasinya.
“Gayanya aduhai, menggemaskan malah,” ucap Didin sambil tertawa kecil. “Tapi isinya tipis. Suaranya keras, tapi pijakannya tak jelas.”
Ia bahkan menyamakan mereka dengan lenong—seni pertunjukan rakyat yang memang riuh, lucu, dan penuh warna.
“Bedanya, lenong asli punya pesan moral,” lanjut Didin. “Sementara Pelen? Mereka hanya punya gimik.”
Namun di balik satir itu, Didin melihat sesuatu yang lebih dalam, kegelisahan generasi muda yang masih mencari tempat, masih mencari peran, masih belajar membedakan antara panggung dan perjuangan.
Hanya saja, ia mengingatkan bahwa kedewasaan pemuda tidak lahir dari tingkah wah-wahan yang kosong.
“Pemuda harusnya jadi motor perubahan,” tuturnya. “Bukan jadi tontonan yang bikin orang geleng-geleng kepala.”
Fenomena Pelen mungkin terdengar lucu bagi sebagian orang—bahkan jadi hiburan tersendiri.
Tetapi bagi gerakan pemuda yang sedang serius membangun masa depan, ia adalah pengingat tajam.
“Tidak semua yang berisik adalah gerakan, dan tidak semua yang ramai adalah perubahan.”
Kadang, kerbau yang paling banyak jingkrak justru yang paling sedikit membawa beban.***












