Literasirakyat.com – BOGOR – Di ambang fajar Ramadhan 1447 H, sebuah potret satir tersaji di sepanjang urat nadi Jalan Raya Nasional Jasinga–Cigudeg, Kabupaten Bogor. Bukan raungan alat berat milik pemerintah yang terdengar, melainkan deru semangat sekumpulan pemuda yang “turun kasta” menjadi kuli jalanan demi menutup lubang-lubang maut dengan alat seadanya, Sabtu (21/2/2026).
Aksi kolektif yang dimotori oleh Komunitas Pemuda Bogor Barat—sebuah koalisi organik dari KNPI, Karang Taruna, jurnalis, hingga aktivis lingkungan—bukan sekadar kerja bakti biasa. Ini adalah sebuah manifestasi protes terhadap kekosongan peran negara dalam memelihara infrastruktur vital.
Ketika Pajak Berbalas Lubang
Secara yuridis, UU Nomor 38 Tahun 2004 menggariskan dengan tegas bahwa pemeliharaan jalan nasional adalah mandat mutlak Pemerintah Pusat melalui Kementerian PU dan BPJN. Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Lubang-lubang menganga yang siap menjemput maut dibiarkan terbengkalai, memaksa rakyat untuk mengambil alih tugas negara.
“Aksi ini adalah tamparan moral yang keras. Rakyat taat menunaikan kewajiban pajak, namun hak atas fasilitas jalan yang layak justru dianaktirikan. Ketika warga harus turun ke jalan membawa semen dan cangkul, itu adalah sinyal kuat bahwa birokrasi sedang tidak baik-baik saja,” tegas salah satu representasi pemuda di lokasi.
Urat Nadi yang Terlupakan
Jalur Jasinga–Cigudeg bukan sekadar aspal, melainkan jalur logistik dan ekonomi utama bagi masyarakat Bogor Barat. Pembiaran kerusakan yang berlarut-larut ini dinilai bukan lagi kendala teknis semata, melainkan defisit kemauan politik (political will).
Melalui gerakan swadaya ini, para pemuda melayangkan pesan subliminal: mereka tak butuh janji di atas kertas, melainkan perbaikan permanen sebelum aspal tersebut kembali memakan korban jiwa.
:Blx_Sky











