Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Ketika Sunda Melahirkan Seorang Filsuf, Kita Justru Sibuk Mencari Kebijaksanaan di Negeri Orang

Ketika Sunda Melahirkan Seorang Filsuf, Kita Justru Sibuk Mencari Kebijaksanaan di Negeri Orang

  • account_circle Bima
  • calendar_month 10 jam yang lalu
  • visibility 3
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Literasirakyat.com — Ada sebuah ironi yang tak pernah benar-benar selesai di negeri ini. Kita begitu mudah mengagumi peradaban yang datang dari seberang lautan.

Nama-nama filsuf Yunani begitu akrab di ruang kelas, teori Barat begitu fasih diucapkan dalam seminar, sementara nama besar dari tanah sendiri perlahan tenggelam bersama debu waktu.

Padahal, jauh sebelum buku-buku modern memenuhi rak perpustakaan, tanah Sunda telah melahirkan seorang pemimpin yang tidak hanya memerintah, tetapi juga berpikir.

“Dalem Pancaniti Bukan Sekadar Bupati, Ia Mewariskan Cara Berpikir yang Kini Mulai Dilupakan” ujar Den Agung. Selasa, (30/06/2026).

Seorang bupati yang menjadikan keheningan sebagai ruang lahirnya ilmu.

Namanya R.A.A. Kusumahningrat.

Sejarah kemudian mengenalnya sebagai Dalem Pancaniti.

R.A.A. Kusumahningrat

Di lingkungan Pendopo Cianjur berdiri sebuah paviliun sederhana bernama Pancaniti. Bangunannya tidak megah. Tidak pula dipenuhi singgasana emas. Namun dari ruangan itulah lahir gagasan-gagasan yang melampaui zamannya.

Konon, ketika urusan pemerintahan usai, Dalem Pancaniti memilih menyendiri. Ia bertafakur, menulis, merenung, dan menimbang setiap persoalan. Bukan karena ingin menjauh dari rakyat, tetapi karena ia memahami bahwa keputusan besar hanya lahir dari pikiran yang jernih.

“Beliau tidak sekadar memimpin Cianjur. Beliau sedang membangun peradaban berpikir masyarakat Sunda,” tutur budayawan Den Agung.

Den Agung, Sejarawan kelahiran Cianjur Jawa-Barat

Menurutnya, banyak orang hanya mengenal Dalem Pancaniti sebagai pencipta Tembang Cianjuran. Padahal, warisan terbesar tokoh kelahiran 1834 itu justru berada pada sesuatu yang tidak kasatmata: cara berpikir.

“Beliau melahirkan konsep Pancaniti. Hari ini konsep itu sering digunakan sebagai pisau bedah dalam memahami sejarah. Ironisnya, banyak yang memakainya, tetapi tidak tahu siapa pencetusnya,” kata Den Agung.

Sejak kecil, Raden Hasan—nama kecil Dalem Pancaniti—telah ditempa dalam dunia pesantren. Ayahnya mengirimnya ke berbagai pusat pendidikan agama, termasuk Pesantren Cigawir di Limbangan. Di sana ia belajar tentang akhlak, ketauhidan, sekaligus kerendahan hati.

Namun hidupnya tidak hanya dipenuhi kitab. Ia juga belajar pantun Sunda, mendalami gamelan degung bersama saudara-saudaranya di bawah bimbingan R. Wasitareja. Agama, sastra, seni, dan kebudayaan bertemu dalam satu jiwa.

Barangkali itulah sebabnya ia tidak pernah melihat ilmu sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Semua harus dipahami secara utuh.

Dari sanalah lahir Pancaniti.

Bagi Den Agung, Pancaniti bukan sekadar nama tempat, melainkan metode memahami kehidupan.

Sebuah jalan berpikir yang mengajarkan agar manusia tidak tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu sebelum melihat persoalan dari berbagai sisi.

“Leluhur Sunda sudah mengajarkan berpikir kritis sejak ratusan tahun lalu. Sayangnya, kita lebih bangga mengutip teori dari luar dibanding menggali kebijaksanaan yang tumbuh di tanah sendiri,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar seperti kritik. Namun mungkin memang demikian adanya.

Hari ini banyak orang berlomba menghafal teori sejarah, tetapi lupa membaca sejarah kampungnya sendiri.

Kita fasih menyebut nama para filsuf dunia, tetapi gagap ketika diminta menceritakan siapa Dalem Pancaniti.

Padahal, ia bukan hanya Bupati Cianjur ke-10. Ia adalah pelopor Tembang Cianjuran, penyusun kamus dwibahasa Melayu-Sunda pertama oleh orang Sunda, sekaligus pemikir yang meninggalkan warisan intelektual bagi generasi setelahnya.

Ketika wafat pada 1862, jasadnya dimakamkan di Pasarean Agung, Cianjur. Namun sesungguhnya, yang dikuburkan hanyalah raganya.

Pikirannya tetap hidup.

Ia mengalun dalam Tembang Cianjuran.

Ia bersemayam dalam lembar-lembar kamus Melayu-Sunda.

Dan ia terus berbicara melalui konsep Pancaniti kepada siapa pun yang masih mau mendengar.

“Bila kita terus mengagumi kebijaksanaan bangsa lain, sementara kebijaksanaan leluhur sendiri kita biarkan berdebu, jangan salahkan sejarah bila suatu hari ia mencatat bahwa kita adalah generasi yang kehilangan akar,” tutup Den Agung.

Mungkin benar, sebuah bangsa tidak kehilangan masa depannya ketika miskin sumber daya. Bangsa mulai kehilangan masa depannya ketika lupa kepada para pemikir yang pernah menerangi jalannya.****

  • Penulis: Bima

Komentar (1)

  • Den Agung

    Konsep Pancaniti (5 titian) :
    1. Niti harti
    2. Niti surti
    3. Niti bukti
    4. Niti bakti
    5. Niti sajati

    Balas30 Juni 2026 5:43 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muscamlub PK Golkar Pamijahan Berlangsung Hangat, Yus Adira Putra Nahkodai PK Hingga 2026

    Muscamlub PK Golkar Pamijahan Berlangsung Hangat, Yus Adira Putra Nahkodai PK Hingga 2026

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Bima
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Literasirakyat.com – Musyawarah Kecamatan Luar Biasa (Muscamlub) PK Partai Golkar Kecamatan Pamijahan berlangsung penuh kekeluargaan di Aula Rapat Lantai 9 DPD Partai Golkar Kabupaten Bogor, Senin (11/5/2026). Kegiatan tersebut dihadiri langsung Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bogor, Wawan Haikal Kurdi, bersama 15 Pides (Pimpinan Desa) se-Kecamatan Pamijahan. Dalam forum tersebut, semangat menjaga soliditas partai menjadi […]

  • Lebih Dari Satu Dekade Jalan Lingkungan di Kampung Sukajadi Tidak Pernah Tersentuh Pembangunan, Warga: Kami Juga Bayar Pajak.

    Lebih Dari Satu Dekade Jalan Lingkungan di Kampung Sukajadi Tidak Pernah Tersentuh Pembangunan, Warga: Kami Juga Bayar Pajak.

    • calendar_month Selasa, 30 Sep 2025
    • account_circle Heru Blx_sky
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Literasirakyat.com-Rancabungur-Keluahan warga terkait tidak adanya sentuhan pembangunan jalan Lingkungan di Kampung Sukajadi, RT 004/002, Desa Mekarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, kini telah jadi sorotan, pasalnya jalan tersebut memang tidak pernah tersentuh sama sekali oleh pemerintah Desa, selama belasan tahun, senin 29 September 2025.   ‎Bukan tanpa sebab, warga mengeluh karna memang jalan yang dijadikan akses […]

  • Gebyar Ramadan Berkah Yayasan Cendekia Bogor: Berbagi Kebahagiaan Bersama 250 Anak Yatim

    Gebyar Ramadan Berkah Yayasan Cendekia Bogor: Berbagi Kebahagiaan Bersama 250 Anak Yatim

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Bima
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Literasirakyat.com — Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Penutupan Gebyar Ramadan Berkah yang diselenggarakan oleh Yayasan Cendekia Bogor pada Jumat, 13 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi momentum berbagi sekaligus memperkuat nilai spiritual dan kepedulian sosial di bulan suci Ramadan. Sejak pagi, rangkaian kegiatan dimulai dengan tadarus Al-Qur’an yang diikuti para peserta dengan penuh kekhusyukan. […]

  • Kopertais Wilayah II Jabar Lakukan Pembinaan Kinerja di Institut Agama Islam Bogor

    Kopertais Wilayah II Jabar Lakukan Pembinaan Kinerja di Institut Agama Islam Bogor

    • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
    • account_circle Bima
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Literasirakyat.com – Senin, 10 November 2025, Kopertais Wilayah II Jawa Barat melakukan pembinaan kinerja bagi dosen dan struktural Institut Agama Islam (IAI) Bogor. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed, Wakil Ketua Kopertais Wilayah II Jabar. Dalam sambutannya, Prof. Aan mengapresiasi pesatnya perkembangan IAI Bogor yang di usia tiga tahun telah […]

  • Milad Pemuda Muslim Tingkat PW Jabar, Dr Usep Nukliri Sampaikan Hal Ini: Berdaya Digital, Berjiwa Tauhid, Siap Membangun Peradaban

    Milad Pemuda Muslim Tingkat PW Jabar, Dr Usep Nukliri Sampaikan Hal Ini: Berdaya Digital, Berjiwa Tauhid, Siap Membangun Peradaban

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Bima
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Literasirakyat.com – Peringatan Milad Pemuda Muslim tingkat PW Jawa Barat tahun ini mengusung tema penuh energi yakni “Berdaya Digital, Berjiwa Tauhid, Membangun Peradaban.” Momentum ini menjadi ajang refleksi sekaligus dorongan baru bagi para kader muda untuk mengambil peran strategis dalam kemajuan bangsa. Dalam sambutannya, Pimpinan Besar Pemuda Muslim Indonesia, Dr. Usep Nukliri, menyampaikan pesan yang […]

  • Dilema Penutupan Tambang Cigudeg: Padamnya Lentera Pendidikan Gratis di Pelosok Bogor

    Dilema Penutupan Tambang Cigudeg: Padamnya Lentera Pendidikan Gratis di Pelosok Bogor

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Heru Blx_sky
    • visibility 2
    • 0Komentar

    Literasirakyat.com – BOGOR – Narasi pembangunan inklusif yang kerap digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini seolah membentur tembok kenyataan di pelosok Cigudeg. Kebijakan penghentian aktivitas pertambangan oleh Pemprov Jabar beberapa bulan lalu mulai memicu efek domino yang mengkhawatirkan. Dampaknya tidak hanya melumpuhkan sektor ekonomi, tetapi juga mengancam hak dasar pendidikan anak-anak di Kp. Kadaung, Rengasjajar. […]

expand_less