Mahasiswa “Gedor” Istana Bogor, Tolak BBM Naik hingga RUU Polri
- account_circle Bima
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Literasirakyat.com – Gelombang kritik terhadap kebijakan pemerintah kembali menggema dari depan Istana Bogor.
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Bergerak Indonesia (FMBI) Gerakan Kolektif dan Kolegial turun ke jalan, Senin (15/6/2026), membawa sederet tuntutan yang mereka sebut sebagai suara keresahan rakyat.
Dengan membawa spanduk dan poster kritik, massa aksi menolak rencana kenaikan harga BBM, mendesak evaluasi total Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta menolak RUU Polri 2026 yang dinilai berpotensi mengancam ruang demokrasi.

Koordinator lapangan aksi, Habib Permana, menilai pemerintah harus lebih peka terhadap kondisi masyarakat yang saat ini masih dihimpit mahalnya kebutuhan pokok, minimnya lapangan pekerjaan, dan melemahnya nilai tukar rupiah.
“Jangan tambah beban rakyat dengan kebijakan yang justru mempersempit ruang hidup masyarakat,” tegas Habib dalam orasinya.
Mahasiswa menyoroti potensi dampak kenaikan BBM yang dapat memicu lonjakan harga barang dan jasa.
Mereka juga mempertanyakan efektivitas pelaksanaan MBG yang menyedot anggaran besar namun masih menuai berbagai persoalan di lapangan.

Tak hanya itu, pengesahan RUU Polri 2026 menjadi sorotan tajam. Massa menilai perluasan kewenangan aparat harus diimbangi mekanisme pengawasan yang kuat agar tidak membuka ruang penyalahgunaan kekuasaan.
Aksi tersebut menjadi sinyal bahwa kegelisahan terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi masih terus bergulir.
Dari depan Istana Bogor, mahasiswa mengingatkan bahwa kebijakan publik seharusnya berpijak pada kepentingan rakyat, bukan sekadar memenuhi agenda elite kekuasaan.***
- Penulis: Bima

Saat ini belum ada komentar